Senin, 03 Mei 2010

pendekatan ilmiah dlm pend

BAB SATU : PENDEKATAN ILMIAH DALAM PENDIDIKAN
1.1 SUMBER PENGETAHUAN
1.1.1 Pengalaman
Pengalaman adalah sumber pengetahuan yang telah banyak diketahui dan digunakan orang. Berdasarkan pengalaman pribadi seseorang dapat menemukan jawaban atas persoalan yang dihadapinya.
1.1.2 Wewenang
Wewenang atau otoritas sering dijadikan pegangan orang yang sulit atau yang tidak mungkin diketahui melalui pengalaman pribadi. Artinya orang mencari jawaban pertanyaan itu dari orang lain yang telah lebih dahulu mengahapi persoalan yang serupa dengan dirinya.
1.1.3 Cara Berpikir Deduktif
cara berpikit deduktif dapat dirumuskan sebagai suatu proses berpikir yang bertolak dari pernyataan yang bersifat umum ke pernyataan yang bersifat khusus dengan memakai kaidah logika tertentu. Hal ini dilakukan melalui serangkaian pernyataan yang disebut silogisme, yang terdiri atas :
a. Dasar pikiran utama ( premis mayor )
b. Dasar pikiran kedua ( premis minor )
c. Kesimpulan
1.1.4Cara Berpikir Induktif
Menurut system Bacon, pengamatan dilakukan pada kejadian-kejadian tertentu di dalam kelas. Kemudian, berdasarkan kejadian-kejadian yang diamati tersebut, ditarik kesimpulan-kesimpulan tentang seluruh kelas. Pendekatan ini dikenal dengan cara berpikir induktif yang merupakan kebalikan dari cara berpikir deduktif
1.1.4 Pendekatan Ilmiah
Penggunaan induksi secara eksklusif menyebabkan menumpuknya pengetahuan dan informasi terpisah-pisah, sehingga tidak banyak mendorong kemajuan pengetahuan.
Langkah-langkah dalam pendekatan ilmiah tersebut adalah :
1.1.4.1 Perumusan Masalah
Penyelidikan ilmiah bermula dari suatu masalah atau pesoalan yang memerlukan pemecahan. Agar dapat diselidiki secara ilmiah, suatu persoalan harus mempunyai satu ciri penting, yaitu, persoalan tersebut harus dapat dirumuskan sedemikian rupa, sehingga dapat dijawab dengan pengamatan dan percobaan. Persoalan-persoalan yang menyangkut pilihan atau nilai-nilai tidak dapat dijawab atas dasar informasi factual belaka. Pertimbangan nilai tidak pada tempatnya di dalam ilmu, karena itu kata-kata yang mengandung makna pertimbangan nilai hendaknya tidak dimasukkan kedalam perumusan masalah.
1.1.4.2 Pengajuan Hipotesis
Langkah selanjutnya adalah merumuskan hipotesis yang merupakan penjelasan sementara tentang masalah itu. Tahap ini mengharuskan peneliti membaca bahan bacaan yang berkaitan dengan masalah itu dan berpikir lebih dalam lagi.
1.1.4.3 Cara Berpikir Deduktif
Melalui proses berpikir deduktif, implikasi hipotesis yang diajukan itu, yaitu apa yang akan dapat diamati jika hipotesis tersebut benar ditetapkan.
1.1.4.4 Pengumpulan dan Analisis Data
Hipotesis, atau lebih tepatnya implikasi yang dipeoleh melalui deduksi, diuji dengan jalan mengumpulkan data yang ada hubungannya dengan masalah yang diselidiki melalui pengamatan, tes, dan eksperimentasi.
1.1.4.5 Penerimaan atau Penolakan Hipotesis
Setelah data dikumpulkan, maka hasilnya dianalisis untuk menetapkan apakah penyelidikan memberikan bukti-bukti yang mendukung hipotesis atau tidak. Dalam pendekatan ilmiah, seseorang tidak dituntut membuktikan hipotesis. Ini akan menyangkut masalah kebenaran mutlak yang bukan merupakan ciri pendekatan ini. Seseorang hanya akan menyimpulkan bahwa bukti-bukti yang diperoleh mendukung atau tidak mendukung hipotesis.
Pernyataan-pernyataan logis dimasukan kedalam buku catatan dibagi menjadi enam kelompok :
1. Pengungkap masalah.
2. Hipotesis mengenai sebab masalah tersebut.
3. Percobaan-percobaan yang dirancang untuk menguji tiap-tiap hipotesis.
4. Hasil-hasil percobaan yang diramalkan.
5. Hasil-hasil percobaan yang dinikmati.
6. Kesimpulan yang ditarik dari hasil-hasil percobaan tersebut.

1.2 HAKEKAT ILMU
Ada beberapa aspek pendekatan ilmiah, antara lain :
1.2.1 Asumsi yang dibuat oleh ilmuwan.
Asumsi dasar yang dibuat oleh para ilmuwan menyatakan bahwa kejadian-kejadian yang mereka teliti bersifat taat hukum atau terib-tidak ada kejadian yang bersifat tak terduga. Akibat wajar dari asumsi ini adalah timbulnya keyakinan bahwa hanya gejala yang benar-benar dapat dilihat eksistensinya saja yang berada di dalam wilayah penyelidikan ilmiah.

1.2.2 Sikap para ilmuwan
Para ilmuwan mengkuyi adanya beberapa sikap khusus yang mereka peroleh pada waktu mereka menggeluti pekerjaan,yaitu ;
1) Ilmuwan pada dasarnya adalah orang yang sangsi, yang selalu meragukan setiap data ilmu.
2) Ilmuwan bersikap obyektif dan tidak memihak.
3) Ilmuwan berurusan dengan fakta-fakta bukan nilai-nilai.
4) Ilmuwan tidak puas dengan fakta yang terpisah-pisah, melainkan terus berusaha menyatukan dan menyusun hasil penyelidikannya secara sistematis.

1.2.3 Teori ilmiah
Tujuan akhir ilmu adalah membentuk teori. Teori ilmiah adalah suatu keterangan sementara tentang gejal-gejala. Meskipun tujuan dasar ilmu adalah pembangunan teori, usaha yang bersifat ilmiah akan menghasilkan:
1) Keterangan
2) Ramalan
3) Pengendalian
1.2.3.1 Macam-macam teori
Teori umumnya terdiri atas seperangkat hipotesis yang kemudian membentuk suatu system deduktif. Artinya, teori ini tersusun dari seperangkat proposisi hipotesis, kemudian dari hipotesis-hipotesis yang lebih tinggi ditarik serangkaian deduksi secara logis.

1.2.3.2. Kegunaan teori
Pertama, teori meringkas dan menyusun pengetahuan yang ada dalam suatu bidang tertentu. Teori belajar misalnya, secara konsisten mengumpulkan berbagai hasil penyelidikan yang terpisah-pisah menjadi proses belajar. Selain itu teori juga menjelaskan dan memberi arrti kepada hasil penyelidikan empiris yang telah dilakukan sebelumnya dan masih terpisah-pisah.

1.2.3.3. Ciri-ciri teori
Beberapa ciri suatu teori adalah sebagai berikut ;
1) Teori harus dapat menerangkan fakta hasil pengamatan yang ada hubungannya dengan suatu masalah;
2) Terori harus konsisten dengan fakta yang diamati dengan kerangka pengetahuan yang sudah mapan.
3) Teori harus memberikan cara pembuktian kebenarannya. Maksudnya, teori harus memungkinkan dibuatnya deduksi dalam bentuk hipotesis yang menyatakan akibat yang diharapkan dapat diamati jika teori tersebut benar.
4) Teori harus merangsang penemuan baru dan menunjukan bidang-bidang baru yang perlu diselidiki.


1.2.4 Keterbatasan-Keterbatasan Pendekatan Ilmiah Dalam Ilmu-Ilmu Social
1) Kepelikan Masalah
Hambatan yang terutama terletak pada kepelikan amsalah ilmu-ilmu sosial itu sendiri.
2) Kesukaran Dalm Pengamatan
Pengamatan di bidang ilmu – ilmu sosial lebih bersifat subyektif, karena lebih banyak memerlikan interpretasi peneliti. Misalnya, pokok persoalan penyelidikan sering berupa tanggapan sesorang terhadap tingkah laku seseorang seperti motif, nilai – nilai, dan sikap yang tidak mudah dilihat.
Sebaliknya, ahli ilmu alam menyelididki gejala – gejala yang memerlukan penafsiran yang lebih obyektif.

3) Kesukaran Dalam Replikasi
Gejala – gejala sosial adalah kejadian – kejadian tunggal, yang tidak dapat diulangi untuk tujuan pengamatan.
4) Interaksi Antara Pengamatan Dan Subyek
Penyelidik adalah manusia, yang kehadirannya sebagai pengamat dalam suatu situasi dapat mempengaruhi manusia lain yang menjasi subyeknya.
5) Kesukaran Dalam Pengendalian
Kepelikan yang dihadapi dalam penelitian terhadap subyek manusia menimbulkan masalah penegendalian yang tidak ada imbangannya dalam ilmu pengetahuan alam.
6) Masalah Pengukuran
Alat – alat pengukuran dalam ilmu – ilmu sosial jauh lebih tidak sempurna dan kurang tepat jika dibandingkan dengan alat –alat yang di pakai dalam ilmu pengetahuan alam.
1.3. HAKEKAT PENELITIAN

Tujuannya ialah untuk menemukan jawaban terhadap persoalan yang berarti, melalui penerapan prosedur – prosedur ilmiah. Suatu npenyelidiakn harus melibatkan pendekatan ilmiah agar dapat digolongkan sebagai penelitian. Secara universal, penelitian merupakan usaha sistematis dan obyektif untuk mencari penget6ahuan yang dapat dipercaya.


1) Penelitian Pendidikan
Jika pendekatan ilmiah diterapkan untuk menyelidiki masalah – masalah pendididkan, maka hasilnya ialah penelitian pendidikan. Penelitian pendidikan adalah cara yang digunakan orang untuk mendapatkan informasi yang berguna dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai proses kependidikan.

2) Tahap – Tahap Penelitian
a) Memilih Masalah
b) Tahap Analisis
c) Memilih Strategi Penelitian Dan Mengembangkan Instrumen
d) Mengumpulan Dan Menafsirkan Data
e) Melaporkan Hasil Penelitian

3) Masalah Penelitian Yang Diajukan Oleh Para Peneliti Pendidikan
a) Masalah Penelitian Yang Bersifat Teoritis
b) Masalah Penelitian Yang Bersifat Praktis

4) Penelitian Dasar Dan Terapan
Penelitian dasar adalah penelitian yang bertuiuan memperoleh data empiris yang dapat digunakan untuk merumuskan, memperluas, atau mengevaluasi teori. Penelitian terapan adalah penelitian yang bertujuan memecahkan persoalan praktis yang mendesak. Penelitian ini dilakukan dalam hubungannya dengan persoalan –persoalan nyata, dalam kondisi yang didapati di dalam praktek.Melelui penelitian terapan, para pendidik acap kali mampu memecahkan masalh mereka pada tingkat kepelikan yang sesuai, yakni dalam situasi belajar mengajar di dalam kelas.
1.4. METODOLOGI PENELITIAN DALAM PENDIDIKAN

Metode penelitian adalah strategi umum yang dianut dalam pengumpulan dan analisi data yang diperlukan, guna menjawab persoalan yang dihadapi. Empat kategori yang biasanya dipakai untuk mengelompokan penelitian pendidikan ialah:
 Eksperimental: ” suatu npenyelidikan ilmiah yang menuntut peneliti memanipulasi dan mengendalikan satu atau lebih variabel bebas serta mengamati variabel terikat, untuk melihat perbedaan yang sesuai dengan manipulasi variacel- veriabel bebas tersebut.” Tujuan utama eksperimen adalh untuk menetapkan apa yang mungkin terjadi.
 Ex post facto: serupa dengan penelitian eksperimental,hanya disini peneliti tidak dapat secara langsung memanipulasi variabel bebas.
 Deskriptif: ”melukiskan dan menafsirkan keadaan yang ada sekarang. Tujuan utama penelitian deskriptif adalah melukiskan keadaan sesuatu atau yang sedang terjadi pada saat penelitian berlangsung. Penelitian deskriptif ini terdiri atas beberapa sub kategori yaitu studi kasus, survei, studi perkembangan, studi tindak lanjut, analisis dokumemter,studi kecenderungan, dan studi korelasi.
 Historis: ” menyangkut suatu prosedur guna melengkapi pengamatan, suatu proses yang dipakai oleh para ahli sejarah dalam usahanya menguji kebenaran pengamatan –pengamatan yang dilakukan orang lain ”. Tujuan utamanya adalh untuk menceritakan apa yang terjadi.
1.5.2.1. Batasan Konstitutif
Batasan konstitutif adalah jenis batasan yang lebih formal, di mana suatu istilah diberi batasan dengan menggunakan istilah-istilah lain. Misalnya, keerdasan diberi batasan sebagai kemampuan berfikir secara abstrak.
1.5.1.2. Batasan Operasional
Batasan Operasional adalah batasan yang memberikan arti kepada suatu pengertian atau bangunan pengertian dengan jalan menetapkan tindakan (operasi) yang akan dilakukan untuk mengukur pengertian tersebut . batasan semacam ini penting sekali dalam penelitian, karena data harus dikumpulkan dalam bentuk kejadian yang dapat diamati.
1.5.3. Variabel
Variable adalah suatu atribut yang dianggap mencerminkan atau mengungkapkan pengertian atau bangunan-pengertian. Tinggi badan adalah salah satu contoh dari variabel; variabel ini dapat berbeda-beda pada seorang individu dari masa ke masa, antara beberapa individu pada saat yang sama, antara rata-rata dari suatu kelompok, dan seterusnya.
1.5.3.1. Macam-macam Variabel
Berdasarkan penggunaannya di dalam penelitian yang sedang dilakukan, variabel di bagi mejadi dua yaitu : variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variable).
Dalam penelitian , variabel yang merupakan akibat, atau yang tergantung pada variabel yang mendahuluinya, disebut variabel terikat. Variabel yang mendahului atau yang mempengaruhi variabel tersebut disebut variabel bebas. Sebagai contoh , tinggi badan seorang anak (variabel terikat), sebagian besar tergantung pada usianya (variabel bebas).

1.6. SEJARAH PENELITIAN KEPENDIDIKAN
Abad ilmu dimulai dari bidang ilmu pengetahuan alam pada abad ketujuh belas dan delapan belas.akan tetapi, baru pada akhir abad kesembilan belas ilmu pengetahuan mulai mempergunakan metodologi ilmu. Keterlambatan munculnya pendidikan sebagai ilmu ini disebabkan bukan saja oleh peliknya gejala yang diselidiki, melainkan juga oleh lambatnya kemajuan pengembangan alat-alat pengamatan dan pengukurannya.

1.6.1. Awal Pengukuran

1.6.2 . Awal Penelitian Pendidikan
Pertumbuhan penelitian ini dibagi menjadi tiga periode :
1.6.3. Periode Perintisan (1900-1920)
1.6.4. Perode Perluasan (1920-1945)
1.6.5. Perode Penilaian Secara Kritis (1945 Sampai Sekarang)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar