Senin, 03 Mei 2010

BAB III analisis statistika

BAB TIGA : ANALISIS STATISTIK
Statistika Deskriptif
Suatu prosedur statistik pada dasarnya ialah suatu cara mengolah informasi kuantitatif sedemikian rupa, sehingga informasi tersebut memiliki arti. Ada dua kegunaan prosedur statistik bagi seorang peniliti. Pertama, prosedur tersebut memungkinkan peneliti merangkum dan melukiskan pengamatan yang telah dilakukannya. Teknik ini sering disebut statistika deskriptif
Skala Pengukuran
Langkah utama dalam pelaksanaan penelitian ialah pengukuran. Pengukuran ialah proses penterjemahan hasil-hasil pengamatan menjadi angka-angka. Para peneliti biasanya mulai dengan variabel, kemudian dengan kaidah, mereka menetapkan bagaimana variabel itu akan diungkapkan dalam bentuk angka.
1. Skala Nominal
Skala ini adalah skala pengukuran yang paling sederhana dimana pengukuran ini mencakup penempatan obyek atau individu ke dalam kategori-kategori yang mempunyai perbedaan kualitatif, bukan kuantitatif.
1. Skala Ordinal
Pada pengukuran ordinal, ditetapkan posisi relative obyek atau individu dalam hubungannya dengan suatu atribut, tanpa menunjukkan jarak antara posisi-posisi tersebut.
1. Skala Interval
Skala interval ialah skala yang memberi jarak interval yang sama dari suatu titik asal yang tidak tetap.
1. Skala Rasio
Skala ini adalah skala yang tertinggi, yaitu skala yang memiliki titik nol sejati di samping interval yang sama.
5.2 Menyusun Data Penelitian
Untuk melukiskan data yang belum tersusun secara teratur dengan baik sangatlah sulit meskipun bukannya tidak mungkin. Penyusunan data penelitian juga merupakan langkah pokok dalam statistika deskriptif. Ada dua cara menyusun data yang sering digunakan.
1. Mengatur data ke dalam sebaran frekuensi,
2. Menyajikan dalam bentuk grafis.
3. 5.3 Ukuran Kecenderungan Memusat
4. Cara yang paling mudah dalam merangkum data ialah mencari suatu indeks yang dapat mewakili seluruh himpunan ukuran.
Modus, sering diartikan dengan data yang paling banyak muncul atau frekuensi paling banyak.
Median, sering diartikan sebagai nilai tengah dari suatu sebaran ukuran.
1. Mean ( rata-rata ), ialah kecenderungan memusat yang paling banyak dipakai. Mean adalah jumlah semua nilai dalam satu sebaran dibagi dengan jumlah kasus. Dalam bentuk rumus, mean adalah sebagai berikut:
=
keterangan :
= mean
Σ = Jumlah
X= Tiap nilai dalam sebaran
N= jumlah kasus
5.4 Ukuran Keragaman

1. Rentangan, ialah salah satu indeks keragaman yang paling sederhana. Rentangan adalah jarak skor tertinggi dengan skor terendah dalam suatu sebaran,
2. Simpangan Kuartil, ialah separuh dari selisih kuartil atas dan kuartil bawah dalam suatu sebaran. Diamana kuartil atas (Q3) adalah suatu titik dalam sebaran yang di bawahnya ada 75% kasus, sedangkan kuartil bawah (Q1) adalah suatu titik dalam sebaran yang dibawahnya ada 25% kasus. Cara untuk mencari Q3 dan Q1 hampir sama dengan menghitung nilai median.
kuartil atas: Q3 =
kuartil bawah: Q1 =
keterangan :
Q3 = kuartil atas
Q1 =kuartil bawah
N = Jumlah kasus dalam sebaran
L = Batas bawah interval tempat median berada
cfb = frekuensi kumulatif dalam semua interval yang berada di bawah interval yang beriso median
fw = frekuensi kasus dalam interval yang berisi median
i = Besar interval


3. Variansi dan Simpangan Baku, ialah ukuran keragaman yang sangat berguna.
5.6 Kurva Normal

Telah diketahui bahwa sebaran berbagai ukuran fisik dan psikologis jika dilukiskan sebagai polygon frekuensi, akan merupakan bentuk sebuah bel. Poligon yang menunjukkan sebaran seperti itu sangat mirip dengan polygon teoritis yang dikenal dengan nama kurva normal. Kurva teoritis ini adalah suatu model yang secara deduktif ditarik dari teori matematika dengan menggunakan rumus.

keterangan :
Y = ordinat bagi setiap nilai X
= bilangan konstan matematik, 3.1416
= bilangan konstan lainnya, 2.7183
x = simpangan tiap-tiap skor dari mean
= simpangan baku sebaran
5.7 Korelasi
Teknik statistik untuk menetapkan hubungan antara pasangan skor dikenal sebagai teknik korelasi. Biasanya ada dua ukuran variabel bagi setiap anggota kelompok, dan peneliti menetapkan apakah ada hubungan di antara ukuran yang berpasangan ini. Hubungan tersebut secara ringkas digambarkan oleh indeks statistic yang dikenal sebagai koefisien korelasi. Koefisien ini menunjukkan seberapa jauh perubahan dalam satu variabel ada kaitannya dengan perubahan dalam variabel lain. 5.8 Koefisien Korelasi
Korelasi product moment
Ialah indeks korelasi yang paling banyak digunakan. Korelasi ini dipakai jika skala pengukurannya adalah interval atau rasio. Koefisien ini dirumuskan sebagai mean hasil kali skor-z yang artinya skor-z tiap-tiap individu pada satu variabel (X) dikalikan dengan skor-z masing-masing pada variabel yang lain (Y). Koefisien korelasi sering disebut dengan pearson r.

keterangan :
r= koefisien korelasi product moment pearson
= Jumlah hasil kali skor-z
N= banyaknya pasangan

Proses pengubahan skor mentah menjadi skor-z ini menjadi menjemukkan jika kasusnya sangat banyak. Langkah tersebut dapat dihilangkan dan langsung menggunakan skor mentah dengan jalan memakai rumus:

keterangan :
r= pearson r
= Jumlah skor dalam sebaran X
= jumlah skor dalam sebaran Y
= jumlah hasil kali skor X dan skor Y yang berpasangan
ΣX2 = jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran X
ΣY2 = jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran Y
N = banyaknya skor X dan skor Y yang berpasangan

Dengan menggunakan rumus ini, bukan saja pengubahan skor mentah menjadi skor z tidak diperlukan lagi, melainkan juga penghitungan mean dan simpangan baku kedua sebaran itu dapat ditinggalkan.

Bab VI : Penarikan Sampel Dan Statistika Inferensial

6.1 Penarikan Sampel
Suatu ciri penting dari statistika inferensial ialah proses berangkat dari bagian ke keseluruhan. Misalnya, kita bisa mempelajari kelompok 500 orang mahasiswa suatu perguruan tinggi yang kita pilih secara acak dengan maksud membuat generalisasi tentang seluruh mahasiswa di perguruan tinggi tersebut.
6.1.1 Dasar Pemikiran Penarikan Sampel
Penalaran induktif adalah bagian yang sangat penting dalm pendekatan ilmiah. Metude induktif menuntut kita melakukan pengamatan dan kemudian menarik kesimpulan dari pengamatan itu.

6.1.2 Penarikan sampel Acak
Prosedur penarikan sampel yang paling banyak dikenal orang adalah penarikan sampel acak. Ciri dasar penarikan sampel acak ialah bahwa semu anggota populasi mempunyai populasi yang sama dan tidak terikat untuk dimasukkan ke dalam sampel. Langkah-langkah dalam penarikan sampel acak ini adalah:
a) Rumuskan populasi
b) Membuat daftar semua anggota populasi
c) Meilih sampel dengan memakai prosedur dimana hanya faktor kebetulan sajalah yang menentukan anggota mana dari daftar tersebut yang akan terambil sebagai sampel.
6.1.3 Penarikan Sampel Berlapis
Keuntungan penarikan sampel berlapis adalah bahwa penarikan sampel ini memungkunkan peneliti menetapkan seberapa jauh setiap lapisan dalam populasi terwakilindi dalam sampel. Ia dapat mengambil jumlah yang sam dalam setiap lapisan atau memilih sesuai perbandingan besar-kecilinya lapisan dalam populasi. Kelebihannya dalah penarikan smpel ini menjamin terwakilinya kelompok-kelompok tertentu yang ada di dalam populasi.
6.1.5.Penarikan sampel secara sistematis(Sistematic sampling)
Mula-mula ditetapkan terlebih dulu berapa jumlah subyek yang dikehendaki di dalam sample(n). Karena jumlah seluruh anggota populasi (N)sudah diketahui,maka orang hanya perlu membagi n itu dengan N untuk memperoleh interval penarikan sample (k) yang akan digunakan dalam daftar populasi.Anggota sample pertama dipilih secara acak dari interval yang pertama dan kemudian secara sistematis setiap anggota yang ke-k dari populasi tersebut di ambil sebagai sample. Sebagai contoh,mari kita andaikan suatu populasi yang terdiri atas 500 subyek,sedang besar sample yang di inginkan adalah 50 jadi k=N/n=500/50=10.
6.1.6. Besarnya sample
Salah satu pertanyaan yang sering di kemukakan orang ialah seberapa besar jumlah subyek yang perlu di masukkan ke dalam sample,secara teknis besarnya sample tergantung pada ketepatan yang diinginkan peneliti dalam menduga parameter populasi pada taraf tertentu.Tidak ada satu kaidah yang dapat dipakai untuk memetapkan sample.
6.1.7. Pengertian kesalahan penarikan sample.
Ada beberapa kesalahan sewaktu kita menarik kesimpulan tentang populasi berdasarkan sample,karena sample acak sekalipun dapat diduga akan berbeda satu dengan yang lainnya.skor kercerdasan rata-rata suatu sampel acak siswa kelads empat mungkin berbeda dengan skor kercerdasan rata-rata sampel acak siswa kelas empat yang lain,meskipun kedua sampel tersebut diambil dari populasi yang sama.perbedaan yang disebut kesalahan penarikai sampel (sampling error) ini disebabkan oeh karena apa yang diamati itu pada dasarnya hanyalah sampel, bukan populasi seluruhnya. Kesalahan penarikan sampel dirumuskan sebagai perbedaan antara paraameter populasi dan statistik sampel.

6.1.8 Sifat beraturan dari kesalahan penarikan sample.
Karena sampel-sampel acak yang ditarik dari satu populasi yang sama bisa berbeda satu sama lain, maka timbul pertanyaan apakah penggunaan sampel untuk membuat kesimpulan tentang suatu populasi yang benar-benar lebih baik daripada terkaan belaka.Kita tidak bisa meramalkan sifat dan besar kesalahan dari satu sample saja,tetapi kita dapat meramalkan sifat dan besarnya kesalahan penarikan sample secara umum.
6.2. Strategi Statistik Inferensial
Statistika inferensial adalah ilmu untuk membuat keputusan yang masuk akal dengan menggunakan keterangan terbatas. Apa yang kita amati dalam sampel serta apa yang kita ketahui tentang kesalahan penarikan sampel kita gunakan untuk membuat keputusan tentang populasi, keputusan yang mungkin saja salah tetapi masuk akal. Alat utama dalam statistika inferensial adalah hipotesis nol.
6.2.1. Hipotesis Nol
Misalkan kita telah dengan cermat membuat kondisi belajar kedua kelompok tersebut sama keculi metode pengajarannya, maka kita dapat menerangkan perbedaan ini dengan menyatakan bahwa:
• Metode pengajaran itulah yang menyebabkan perbedaan tersebut
• Perbedaan tersebut terjadi secara kebetulan saja.
Perbedaan kedua kelompok itu bisa jadi merupakan skibat dari adanya hubungan antara duan variabel, yaitu metode pengajaran dan penguasaan konsep atau bisa jasdi karena faktor kebetulan belaka (kesalahan penarikan smpel). Penjelasan tentang faktor kebetulan inilah yang dikenal dengan hipotesis nol, yaitu suatu pernyatan bahwa tidak ada hubungan antara variabel-variabel itu dan bahwa setiap hubungan yang tampak hanyalah karena faktor kebetulan belaka. Dari contoh di atas, hipotesis nol itu akan menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara metode pengajaran dan penguasaan konsep bilangan.

6.3. Taraf Signifikansi

kesimpulan ilmiah adalah pernyataan-pernyataan yang mungkin sekali benar dan bukan pernyataan-pernyataan yang mutlak benar. Taraf signifikansi adalah resiko terjadinya kesalahan jenis pertama yang siap diambil oleh peneliti dalam penolakan hipotesis nol. Kalau seorang peneliti menerapkan taraf sugnifikansi pada 0,01 berarti bahwa hipotesis nol itu akan ditolak apabila kemungkinan bahwa hubungan yang diamati itu disebabkan oleh faktor kebetulan belaka adalah satu dalam seratus.
6.4 Signifikansi Perbedaan Antara Dua Mean
6.4.1 Uji-t
Derajat Bebas df = n - 1
Masih banyak lagiii

Bab II masalah penelitian

BAB II MASALAH PENELITIAN
2.2. SUMBER MASALAH PENELITIAN
Pertanyaan pertama yang diajukan mahasiswa adalah “ Bagaimana saya dapat menemukan suatu persoalan penelitian?”. Meskipun tidak ada kaidah yang pasti untuk menemukan suatu persoalan, ada beberapa saran yang telah terbukti bermanfaat, yaitu :
2.2.1 Pengalaman
2.2.2 Deduksi Dari Teori
2.2.3 Literatur Yang Berkaitan
2.2.4 Sumber Non Pendidikan
2.3.MENGEVALUASI MASALAH PENELITIAN

1. Idealnya, masalah tersebut hendaknya merupakan masalah yang pemecahannya akan memberikan sumbangan kepada bangunan pengatahuan di bidang pendidikan.
2. Persoalan itu hendaknya merupakan persoalan yang akan membawa kita kepada persoalan-persoalan baru dan dengan demikian juga kepada penelitian-penelitian selanjutnya.
3. Persoalan tersebut harus merupakan persoalan yang dapat diteliti.
4. Persoalan itu harus sesuai bagi peneliti. ada beberapa aspek pribadi yang harus diperhatikan, diantaranya :
a. Persoalan tersebut hendaknya benar-benar menarik bagi anda, peneliti, dan dsapat memebuat anda bersemangat.
b. Persoalan tersebut hendaknya berada dalam bidang yang dikuasai oleh peneliti.
c. Persoalan tersebut harus dapat dilaksanakan dalam situasi di tempat peneliti berada.
d. Persoalan tersebut harus dapat diteliti serta diselesaikan dalam waktu yang tersedia. Hendaknya tidak dipilih persoalan yang terlalu besar atau rumit.
e. Peneliti harus memastikan diri apakah data yang diperlukan untuk menjawab persoalan tersebut dapat diperoleh atau tidak.
2.4. MENGEMUKAKAN MASALAH
Sesudah masalah dipilih dan signifikasi atau pentingnya masalah itu ditetapkan, maka tugas berikutnya ialah merumuskan atau mengemukakan persoalan tersebut dalam bentuk yang dapat diteliti. Penjabaran soal yang baik itu adalah sebagai berikut :
1. Menerangkan dengan jelas apa yang akan diterangkan atau dipecahkan
2. Membatasi ruang lingkup studi itu pada suatu persoalan khusus


2.5. MENGIDENTIFIKASI POPULASI DAN VARIABEL

Suatu strategi yang baik untuk mengubah masalah yang dirasakan adanya, atau gambaran kabur tentang apa yang ingin diselidiki menjadi persoalan yang dapt diteliti, ialah dengan berpikir berdasarkan populasi dan variabel.
Langkah mengidentifikasi populasi yaitu orang-orang yang ingin kita ketahui ikhwalnya. Sering ada faedahnya mengikuti prosedur ini secara formal seperti cara yang dipakai dalam mermbuat diagram suatu kalimat. Langkah mengidentifikasi populasi dan variabel dapat lebih jelas kita lihat pada contoh dalam tabel berikut ;
KALIMAT PERSOALAN POPULASI VARIABEL
“Apakah pengajaran secara individual yang diberikan oleh siswa yang lebih tinggi kelasnya mempunyai efek positif terhadap iswa yang mempunyai nilai membaca dibawah rata-rata”. Siswa yang nilai membacanya dibawah rata-rata • Variabel;
Pengajaran
secara individual.
• Variabel bebas ;
Pengajaran tambahan
• Variabel terikat;
Hasil belajar membaca.


“Dikalangan siswa kelas dua yang nilai membacanya berada di bawah rata-rata, apakah ada perbedaan dalam skor membaca CAT, antara mereka yang telah menerima latihan kilasan kata 15 menit sehari secara individual, yang diberikan oleh para siswa yang lebih tinggi kelasnya, dengan mereka yang belum pernah menerima latihan kata”. Siswa kelas dua yang nilai membacanya berada di bawah rata-rata • Variabel bebas ;
Latihan kilasan kata 15
menit setiap hari yang
diberikan oleh siswa
dari kelas yang lebih
dengan tanpa latihan
kilasan kata.
• Variabel terikat;
Skor membaca pada CAT.

“ Bagaimanakah pengaruh ada atau tidak adanya pengalaman program pra-sekolah terhadap hasil belajar membaca siswa kelas satu”. Siswa kelas satu • Variabel bebas ;
Mempunyai atau tidak
Mempunyai pengalam-
an program pra-sekolah.
• Variabel terikat;
• Hasil belajar membaca.

BAB III KEPUSTAKAAN YANG BERKAITAn
3.1 PERANAN KEPUSTAKAAN YANG BERKAITAN DALAM PENELITIAN

Tahap pencarian kepustakaan mempunyai beberapa funsi penting, yaitu;
1. pengetahuan tentang penelitian-penelitian yang berkaitan memungkinkan peneliti menetapkan batas-batas bidang mereka.
2. Pemahaman teori dalam suatu bidang memungkinkan peneliti menempatkan masalah dalam perspektif.
3. Melalui penelaahan kepustakaan yang berkaitan, para peneliti dapat mengtahui Prosedur dan instrumen mana yang telah terbukti berguna dan mana yang tampaknya kurang memberikan harapan.
4. Pengkajian yang cermat atas kepustakaan yang berkaitan dapat menghindarkan terjadinya pengulangan studi sebelumnya secara tak sengaja.
5. pengkajian kepustakaan yang berkaitan menempatkan peneliti pada posisi yang lebih baik untuk menafsirkan arti pentingnya hasil penelitiannya sendiri.

3.2 SUMBER REFERENSI DI BIDANG PENDIDIKAN
Cara mencari hasil penelitian terdahulu dibidang pendidikan yaitu dengan mengetahui;
1. Sumber- sumber dari karya-karya sebelumnya.
2. Lembaga-lembaga yang mengumpulkan keterangan-keterangan seperti itu dan yang menyusunnya menjadi basis data (data bases).
3. Dalam bentuk apakah basis data ini tersedia.
4. Cara-cara efisien untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
Sumber utama kepustakaan yang berkaitan itu ialah :
1. Educational Resources Information Center atau ERIC).
2. Indeks penerbit berkala
3. Penerbitan berkala lainnya
4. Buku
5. Disertasi
BAB IV HIPOTESIS

Hipotesis adalah alat yang sangat besar kegunaannjy6a dalam penyelidikan ilmiah. Hipotesis harus dibuat karena dua alasan yaitu:
a) Hipotesis yang mempunyai dasar kuat menunjukan bahwa peneliti telah mempunyai cukkup pengetahuan untuk melakukan penelitian di bidang itu.
b) Hipotesis memberikan arah pada pengumpulan dan penafsiran data;
Kegunaan Hipotesis ialah:
a) Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang.
b) Hipotesis memberikan suatu pernyataan hubungan yang langsung dapat diuji dalam penelitian.
c) Hipotesis memberikan arah kepada penelitian.
d) Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penyelidikan.

4.1. SARAN UNTUK MEMPEROLEH HIPOTESIS
 Hipotesis Induktif
Dalam prosedur induktif, peneliti merumuskan hipotesis sebagai suatu generalisasi dari hubungan-hubungan yang diamati.
 Hipotesis Deduktif
Hipotesis ini mempunyai kelebihan dapat mengarah kepada sistem pengetahuan yang loebih umum karena kerangka untuk menempatkannya ke dalam bangunan pengetahuan telah ada dalam teori itu sendiri.

4.2. CARA HIPOTESIS YANG BAIK
Ada beberapa criteria tertentu yang dapat memberikan ciri hipotesis yang baik, yakni :

4.2.1. Hipotesis Harus Mempunyai Daya Penjelas

4.2.2. Hipotesis Harus Menyatakan Hubungan yang di Harapkan Ada di Antara Variabel-variabel

4.2.3. Hipotesis Harus Dapat Diuji

4.2.4. Hipotesis Hendaknya Konsisten dengan Pengetahuan yang Sudah Ada

4.2.5. Hipotesis Hendaknya dinyatakan Sesederhana dan Seringkas Mungkin
4.3. MENYATAKAN HIPOTESIS
Hipotesis penelitian kadang-kadang diklasifikasikan lagi sebagai berarah (directional) dan tak berarah (nondirectional). Seperti telah tampak dari namanya, hipotesis berarah adalah hipotesis yang menyatakan kesimpulan arah kesimpulan yang diharapkan.

4.4. MENGUJI HIPOTESIS
Untuk menguji suatu hipotesis, peneliti :
1. menarik kesimpulan tentang konsekuensi-konsekuensi yang akan dapat diamati apabila hipotesis tersebut benar,
2. Memilih metode-metode penelitian yang akan memungkinkan pengamatan, eksperimentasi, atau prosedure lain yang diperlukan untuk menunjukkan apakah akibat-akibat tersebut terjadi atau tidak,
3. Menerapkan metode ini serta mengumpulkan data yang dapat dianalaisias untuk menunjukkan apakah hipotesis tersebut didukung oleh data atau tidak.

4.4.2. Studi Percobaan
Studi percobaan atau pilot study ini terutama dapat membantu peneliti menentukan apakah studi tersebut dapat dilakukan atau tidak, dan apakah studi tersebut ada gunanya diteruskan atau tidak.
4.5. RENCANA PENELITIAN
Mengembangkan rencana penelitian adalah langkah yang penting sekali. Langkah ini memaksa peneliti menuliskan gagasan-gagasannya kedalam bentuk yang konkrit.
4.5.1. Permasalah
4.5.2. Hipotesis
4.5.3. Desain Penelitian
4.5.4. Sample
4.5.5. Analisis Statisitik

pendekatan ilmiah dlm pend

BAB SATU : PENDEKATAN ILMIAH DALAM PENDIDIKAN
1.1 SUMBER PENGETAHUAN
1.1.1 Pengalaman
Pengalaman adalah sumber pengetahuan yang telah banyak diketahui dan digunakan orang. Berdasarkan pengalaman pribadi seseorang dapat menemukan jawaban atas persoalan yang dihadapinya.
1.1.2 Wewenang
Wewenang atau otoritas sering dijadikan pegangan orang yang sulit atau yang tidak mungkin diketahui melalui pengalaman pribadi. Artinya orang mencari jawaban pertanyaan itu dari orang lain yang telah lebih dahulu mengahapi persoalan yang serupa dengan dirinya.
1.1.3 Cara Berpikir Deduktif
cara berpikit deduktif dapat dirumuskan sebagai suatu proses berpikir yang bertolak dari pernyataan yang bersifat umum ke pernyataan yang bersifat khusus dengan memakai kaidah logika tertentu. Hal ini dilakukan melalui serangkaian pernyataan yang disebut silogisme, yang terdiri atas :
a. Dasar pikiran utama ( premis mayor )
b. Dasar pikiran kedua ( premis minor )
c. Kesimpulan
1.1.4Cara Berpikir Induktif
Menurut system Bacon, pengamatan dilakukan pada kejadian-kejadian tertentu di dalam kelas. Kemudian, berdasarkan kejadian-kejadian yang diamati tersebut, ditarik kesimpulan-kesimpulan tentang seluruh kelas. Pendekatan ini dikenal dengan cara berpikir induktif yang merupakan kebalikan dari cara berpikir deduktif
1.1.4 Pendekatan Ilmiah
Penggunaan induksi secara eksklusif menyebabkan menumpuknya pengetahuan dan informasi terpisah-pisah, sehingga tidak banyak mendorong kemajuan pengetahuan.
Langkah-langkah dalam pendekatan ilmiah tersebut adalah :
1.1.4.1 Perumusan Masalah
Penyelidikan ilmiah bermula dari suatu masalah atau pesoalan yang memerlukan pemecahan. Agar dapat diselidiki secara ilmiah, suatu persoalan harus mempunyai satu ciri penting, yaitu, persoalan tersebut harus dapat dirumuskan sedemikian rupa, sehingga dapat dijawab dengan pengamatan dan percobaan. Persoalan-persoalan yang menyangkut pilihan atau nilai-nilai tidak dapat dijawab atas dasar informasi factual belaka. Pertimbangan nilai tidak pada tempatnya di dalam ilmu, karena itu kata-kata yang mengandung makna pertimbangan nilai hendaknya tidak dimasukkan kedalam perumusan masalah.
1.1.4.2 Pengajuan Hipotesis
Langkah selanjutnya adalah merumuskan hipotesis yang merupakan penjelasan sementara tentang masalah itu. Tahap ini mengharuskan peneliti membaca bahan bacaan yang berkaitan dengan masalah itu dan berpikir lebih dalam lagi.
1.1.4.3 Cara Berpikir Deduktif
Melalui proses berpikir deduktif, implikasi hipotesis yang diajukan itu, yaitu apa yang akan dapat diamati jika hipotesis tersebut benar ditetapkan.
1.1.4.4 Pengumpulan dan Analisis Data
Hipotesis, atau lebih tepatnya implikasi yang dipeoleh melalui deduksi, diuji dengan jalan mengumpulkan data yang ada hubungannya dengan masalah yang diselidiki melalui pengamatan, tes, dan eksperimentasi.
1.1.4.5 Penerimaan atau Penolakan Hipotesis
Setelah data dikumpulkan, maka hasilnya dianalisis untuk menetapkan apakah penyelidikan memberikan bukti-bukti yang mendukung hipotesis atau tidak. Dalam pendekatan ilmiah, seseorang tidak dituntut membuktikan hipotesis. Ini akan menyangkut masalah kebenaran mutlak yang bukan merupakan ciri pendekatan ini. Seseorang hanya akan menyimpulkan bahwa bukti-bukti yang diperoleh mendukung atau tidak mendukung hipotesis.
Pernyataan-pernyataan logis dimasukan kedalam buku catatan dibagi menjadi enam kelompok :
1. Pengungkap masalah.
2. Hipotesis mengenai sebab masalah tersebut.
3. Percobaan-percobaan yang dirancang untuk menguji tiap-tiap hipotesis.
4. Hasil-hasil percobaan yang diramalkan.
5. Hasil-hasil percobaan yang dinikmati.
6. Kesimpulan yang ditarik dari hasil-hasil percobaan tersebut.

1.2 HAKEKAT ILMU
Ada beberapa aspek pendekatan ilmiah, antara lain :
1.2.1 Asumsi yang dibuat oleh ilmuwan.
Asumsi dasar yang dibuat oleh para ilmuwan menyatakan bahwa kejadian-kejadian yang mereka teliti bersifat taat hukum atau terib-tidak ada kejadian yang bersifat tak terduga. Akibat wajar dari asumsi ini adalah timbulnya keyakinan bahwa hanya gejala yang benar-benar dapat dilihat eksistensinya saja yang berada di dalam wilayah penyelidikan ilmiah.

1.2.2 Sikap para ilmuwan
Para ilmuwan mengkuyi adanya beberapa sikap khusus yang mereka peroleh pada waktu mereka menggeluti pekerjaan,yaitu ;
1) Ilmuwan pada dasarnya adalah orang yang sangsi, yang selalu meragukan setiap data ilmu.
2) Ilmuwan bersikap obyektif dan tidak memihak.
3) Ilmuwan berurusan dengan fakta-fakta bukan nilai-nilai.
4) Ilmuwan tidak puas dengan fakta yang terpisah-pisah, melainkan terus berusaha menyatukan dan menyusun hasil penyelidikannya secara sistematis.

1.2.3 Teori ilmiah
Tujuan akhir ilmu adalah membentuk teori. Teori ilmiah adalah suatu keterangan sementara tentang gejal-gejala. Meskipun tujuan dasar ilmu adalah pembangunan teori, usaha yang bersifat ilmiah akan menghasilkan:
1) Keterangan
2) Ramalan
3) Pengendalian
1.2.3.1 Macam-macam teori
Teori umumnya terdiri atas seperangkat hipotesis yang kemudian membentuk suatu system deduktif. Artinya, teori ini tersusun dari seperangkat proposisi hipotesis, kemudian dari hipotesis-hipotesis yang lebih tinggi ditarik serangkaian deduksi secara logis.

1.2.3.2. Kegunaan teori
Pertama, teori meringkas dan menyusun pengetahuan yang ada dalam suatu bidang tertentu. Teori belajar misalnya, secara konsisten mengumpulkan berbagai hasil penyelidikan yang terpisah-pisah menjadi proses belajar. Selain itu teori juga menjelaskan dan memberi arrti kepada hasil penyelidikan empiris yang telah dilakukan sebelumnya dan masih terpisah-pisah.

1.2.3.3. Ciri-ciri teori
Beberapa ciri suatu teori adalah sebagai berikut ;
1) Teori harus dapat menerangkan fakta hasil pengamatan yang ada hubungannya dengan suatu masalah;
2) Terori harus konsisten dengan fakta yang diamati dengan kerangka pengetahuan yang sudah mapan.
3) Teori harus memberikan cara pembuktian kebenarannya. Maksudnya, teori harus memungkinkan dibuatnya deduksi dalam bentuk hipotesis yang menyatakan akibat yang diharapkan dapat diamati jika teori tersebut benar.
4) Teori harus merangsang penemuan baru dan menunjukan bidang-bidang baru yang perlu diselidiki.


1.2.4 Keterbatasan-Keterbatasan Pendekatan Ilmiah Dalam Ilmu-Ilmu Social
1) Kepelikan Masalah
Hambatan yang terutama terletak pada kepelikan amsalah ilmu-ilmu sosial itu sendiri.
2) Kesukaran Dalm Pengamatan
Pengamatan di bidang ilmu – ilmu sosial lebih bersifat subyektif, karena lebih banyak memerlikan interpretasi peneliti. Misalnya, pokok persoalan penyelidikan sering berupa tanggapan sesorang terhadap tingkah laku seseorang seperti motif, nilai – nilai, dan sikap yang tidak mudah dilihat.
Sebaliknya, ahli ilmu alam menyelididki gejala – gejala yang memerlukan penafsiran yang lebih obyektif.

3) Kesukaran Dalam Replikasi
Gejala – gejala sosial adalah kejadian – kejadian tunggal, yang tidak dapat diulangi untuk tujuan pengamatan.
4) Interaksi Antara Pengamatan Dan Subyek
Penyelidik adalah manusia, yang kehadirannya sebagai pengamat dalam suatu situasi dapat mempengaruhi manusia lain yang menjasi subyeknya.
5) Kesukaran Dalam Pengendalian
Kepelikan yang dihadapi dalam penelitian terhadap subyek manusia menimbulkan masalah penegendalian yang tidak ada imbangannya dalam ilmu pengetahuan alam.
6) Masalah Pengukuran
Alat – alat pengukuran dalam ilmu – ilmu sosial jauh lebih tidak sempurna dan kurang tepat jika dibandingkan dengan alat –alat yang di pakai dalam ilmu pengetahuan alam.
1.3. HAKEKAT PENELITIAN

Tujuannya ialah untuk menemukan jawaban terhadap persoalan yang berarti, melalui penerapan prosedur – prosedur ilmiah. Suatu npenyelidiakn harus melibatkan pendekatan ilmiah agar dapat digolongkan sebagai penelitian. Secara universal, penelitian merupakan usaha sistematis dan obyektif untuk mencari penget6ahuan yang dapat dipercaya.


1) Penelitian Pendidikan
Jika pendekatan ilmiah diterapkan untuk menyelidiki masalah – masalah pendididkan, maka hasilnya ialah penelitian pendidikan. Penelitian pendidikan adalah cara yang digunakan orang untuk mendapatkan informasi yang berguna dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai proses kependidikan.

2) Tahap – Tahap Penelitian
a) Memilih Masalah
b) Tahap Analisis
c) Memilih Strategi Penelitian Dan Mengembangkan Instrumen
d) Mengumpulan Dan Menafsirkan Data
e) Melaporkan Hasil Penelitian

3) Masalah Penelitian Yang Diajukan Oleh Para Peneliti Pendidikan
a) Masalah Penelitian Yang Bersifat Teoritis
b) Masalah Penelitian Yang Bersifat Praktis

4) Penelitian Dasar Dan Terapan
Penelitian dasar adalah penelitian yang bertuiuan memperoleh data empiris yang dapat digunakan untuk merumuskan, memperluas, atau mengevaluasi teori. Penelitian terapan adalah penelitian yang bertujuan memecahkan persoalan praktis yang mendesak. Penelitian ini dilakukan dalam hubungannya dengan persoalan –persoalan nyata, dalam kondisi yang didapati di dalam praktek.Melelui penelitian terapan, para pendidik acap kali mampu memecahkan masalh mereka pada tingkat kepelikan yang sesuai, yakni dalam situasi belajar mengajar di dalam kelas.
1.4. METODOLOGI PENELITIAN DALAM PENDIDIKAN

Metode penelitian adalah strategi umum yang dianut dalam pengumpulan dan analisi data yang diperlukan, guna menjawab persoalan yang dihadapi. Empat kategori yang biasanya dipakai untuk mengelompokan penelitian pendidikan ialah:
 Eksperimental: ” suatu npenyelidikan ilmiah yang menuntut peneliti memanipulasi dan mengendalikan satu atau lebih variabel bebas serta mengamati variabel terikat, untuk melihat perbedaan yang sesuai dengan manipulasi variacel- veriabel bebas tersebut.” Tujuan utama eksperimen adalh untuk menetapkan apa yang mungkin terjadi.
 Ex post facto: serupa dengan penelitian eksperimental,hanya disini peneliti tidak dapat secara langsung memanipulasi variabel bebas.
 Deskriptif: ”melukiskan dan menafsirkan keadaan yang ada sekarang. Tujuan utama penelitian deskriptif adalah melukiskan keadaan sesuatu atau yang sedang terjadi pada saat penelitian berlangsung. Penelitian deskriptif ini terdiri atas beberapa sub kategori yaitu studi kasus, survei, studi perkembangan, studi tindak lanjut, analisis dokumemter,studi kecenderungan, dan studi korelasi.
 Historis: ” menyangkut suatu prosedur guna melengkapi pengamatan, suatu proses yang dipakai oleh para ahli sejarah dalam usahanya menguji kebenaran pengamatan –pengamatan yang dilakukan orang lain ”. Tujuan utamanya adalh untuk menceritakan apa yang terjadi.
1.5.2.1. Batasan Konstitutif
Batasan konstitutif adalah jenis batasan yang lebih formal, di mana suatu istilah diberi batasan dengan menggunakan istilah-istilah lain. Misalnya, keerdasan diberi batasan sebagai kemampuan berfikir secara abstrak.
1.5.1.2. Batasan Operasional
Batasan Operasional adalah batasan yang memberikan arti kepada suatu pengertian atau bangunan pengertian dengan jalan menetapkan tindakan (operasi) yang akan dilakukan untuk mengukur pengertian tersebut . batasan semacam ini penting sekali dalam penelitian, karena data harus dikumpulkan dalam bentuk kejadian yang dapat diamati.
1.5.3. Variabel
Variable adalah suatu atribut yang dianggap mencerminkan atau mengungkapkan pengertian atau bangunan-pengertian. Tinggi badan adalah salah satu contoh dari variabel; variabel ini dapat berbeda-beda pada seorang individu dari masa ke masa, antara beberapa individu pada saat yang sama, antara rata-rata dari suatu kelompok, dan seterusnya.
1.5.3.1. Macam-macam Variabel
Berdasarkan penggunaannya di dalam penelitian yang sedang dilakukan, variabel di bagi mejadi dua yaitu : variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variable).
Dalam penelitian , variabel yang merupakan akibat, atau yang tergantung pada variabel yang mendahuluinya, disebut variabel terikat. Variabel yang mendahului atau yang mempengaruhi variabel tersebut disebut variabel bebas. Sebagai contoh , tinggi badan seorang anak (variabel terikat), sebagian besar tergantung pada usianya (variabel bebas).

1.6. SEJARAH PENELITIAN KEPENDIDIKAN
Abad ilmu dimulai dari bidang ilmu pengetahuan alam pada abad ketujuh belas dan delapan belas.akan tetapi, baru pada akhir abad kesembilan belas ilmu pengetahuan mulai mempergunakan metodologi ilmu. Keterlambatan munculnya pendidikan sebagai ilmu ini disebabkan bukan saja oleh peliknya gejala yang diselidiki, melainkan juga oleh lambatnya kemajuan pengembangan alat-alat pengamatan dan pengukurannya.

1.6.1. Awal Pengukuran

1.6.2 . Awal Penelitian Pendidikan
Pertumbuhan penelitian ini dibagi menjadi tiga periode :
1.6.3. Periode Perintisan (1900-1920)
1.6.4. Perode Perluasan (1920-1945)
1.6.5. Perode Penilaian Secara Kritis (1945 Sampai Sekarang)

Sabtu, 20 Maret 2010

refleksi geser

12.1. ketentuan dan beberapa sifat refleksi geser.

Telah kita ketahui dari materi sebelumnya fakta-fakta berikut;
1). Hasil kali (produk) dua translasi adalah sebuah translasi.
2). Hasil kali dua refleksi pada dua garis adalah sebuah rotasi atau sebuah translasi.
3). Hasil kali dua rotasi adalah sebuah rotasi atau sebuah yranslasi.
Dari ketiga hasil kali transformasi--transformasi diatas, kita dapat menggabungkannya seperti pada teorema berikut;
Teorema 12.1 : Hasil kali sebuah rotasi dansebuah translasi adalah sebuah rotasi yang sudut rotasinya sama dengan sudut rotasi yang diketahui.

Bukti:
Adib : GBC . RAp = Rep

misal : 1. Ada garis berarah BC
2. Ada titik A sebarang.
3. Garis S melalui A dan S tegak lurus dengan garis BC.
4. ada titik D sehingga panjang BC = 2AD.
5. garis T melalui D dan T sejajar garis S.
6. Garis R melalui A sehingga besar sudut yang terbentuk dari R ke S = ½ p.





Jika digambarkan, akan tampak seperti bambar 1 dibawah ini:





Dari gambar 1, dapat diperoleh ketentuan sebagai berikut!
1. Menurut teorema 10.3 (translasi) yaitu andaikan g dan h dua garis yang sejajar dan CD sebuah garis berarah tegak lurus pada g dengan C anggota g dan D anggota h. Apabila AB = 2 CD maka GAB = MhMg .
jika disesuaikan dengan gambar 1. kita peroleh bahwa:
GBC = MtMs.
2. Menurut teorema 11.2 (rotasi) yaitu jika s dan t dua garis yang tidak tegak lurus dan berpotongan di A dan jika sudut yang dibentuk antara s ke t adalah ½ p maka RAp = MtMs.
jika disesuaikan dengan gambar 1 dengan mengambil titik anggota r . kita peroleh bahwa:
RAp = MsMr.

Sehingga kita dapat masukkan ke persamaan awal :
GBC . RAp = ...........
Mt(Ms. Ms)Mr = ...........
MtMr = REp Qed........


Dengan hal yang sama sialahkan anda buktikan bahwa :
RAp . GBC = Rep

Dengan catatan : ambil titik sebarang anggota s sehingga RAp = MrMs.
Selamat mencoba !!!!!!!1



1. Diketahui titik-titik A,B,P,Q. Setiap tiga titik tidak ada yang kolinier. Apabila
S = garis berarah AB. Lukislah :
a. P’ = GABMs(P)
b. P” = MsGAB(P)
c. R sehingga GABMs (P) = Q

Jawab:
a. Buat garis berarah AB.
b. Buat titik P dan Q sebarang , sehingga panjang AB = 2PQ.
c. Buat garis y melalui titik P dan y tegak lurus garis berarah AB.
d. Buat garis z melalui titik Q dan z sejajar y.




Lihat gambar 1 !!


Dari gambar 1 diatas, Menurut teorema 10.3 (translasi) yaitu andaikan g dan h dua garis yang sejajar dan CD sebuah garis berarah tegak lurus pada g dengan C anggota g dan D anggota h. Apabila AB = 2 CD maka GAB = MhMg .
jika disesuaikan dengan gambar 1. kita peroleh bahwa:
GAB = MZMY.
Maka, untuk :
a. P’ = GABMs(P) = MZMYMs(P)
b. P” = MsGAB(P) = MsMZMY (P)
c. R sehingga GABMs (P) = Q, menjadi MZMYMs(P) = Q
jika dilukis, maka akan menjadi seperti gambar 2 di bawah ini :


2. Dietahui tiga garis r,s,t tidak melalui satu titik. Dan tidak ada pasangan yang sejajar. Jika r∩s = {C} , r∩t = {A} dan s∩t = {B}. lukislah :
a. A’ = MtMsMr(A)
b. sumbu refleksi geser R = MtMsMr
jawab :

jika kita gambar maka akan nampak seperti gambar berikut!!







Trima kasih...........................................

masih pantaskah gelar "PAHLAWAN TANPA TANDA JASA" ?

Pasti anda akan bertanya-tanya mengapa , Apa , Dan bagaimana saya bisa menulis artikel dengan judul seperti diatas? Jawabannya sangat singkat, karna saya melihat gelar pahlawan yang tersemat di profesi guru tersebut telah hilang dengan berbagai macam peristiwa dan kejadian yang dilakukan oleh guru sekarang ini.
Telah banyak dari guru atau ahli bahasa yang menganggap bahwa gelar pahlawan tanpa tanda jasa itu tidak sesuai dengan guru dan amat rendah, serendah tukang sapu dijalan dsb, Karna menurut beliau jika di kaji dari segi bahasa maka akan seperti dibawah ini:
Pahlawan= orang yang berjasa besar kepada bangsa dengan pengorbanan yang besar pula, bahkan rela berkorban nyawa.
Tanda jasa = sebuah tanda penghormatan atau penghargaan atas jasa seseorang yang dianggap sangat berarti.
Maka menurut mereka, guru di asosiasikan sebagai Pahlawan, tetapi yang sangat menyakitkan, divonis/disepakati/diumumkan bahwa ia tanpa tanda jasa....!
Bagi pihak penerima, dalam hal ini guru, "tanpa tanda jasa" bisa diartikan bahwa guru tidak mengharapkan atau meminta penghargaan dalam melaksanakan tugasnya. Ia ikhlas dan menerima mengajar dengan gaji yang tidak mencukupi kebutuhan hidup dalam sebulan.
Dan itu menurut mereka sama hal nya dengan tukang sapu dijalan yng bekerja membersikan sampah tiap hari tetapi tidak pernah di anggap oleh pemerintah dan orang lain.
Sungguh ironis gelar itu menurut mereka!
Tetapi bukan hal ini yang akan saya bahas disini, karna saya bukan ahlinya dalam bahasa.
Saya akan membahas nilai-nilai yang terkandung dalam gelar ”pahlawan tanpa tanda jasa”. Karna dimata saya gelar ini adalah gelar yang sangat mulia dan terhormat. Masih ingat saat kalian sekolah di SD/SMP/SMA disela upacara? kita selalu mendengarkan dengan khitmad alunan lagu hymne guru yang menurut saya betapa mulia dan agungnya tugas guru, yang ikhlas mendidik kita tanpa mengharapkan imbalan dan jasa apapun.
Nah, sekarang coba kita lihat yang terjadi didunia pendidikan kita, apakah masih pantas gelar itu disandang oleh guru?
Kita ambil contoh yang real, disekolah A terdapat guru yang dinobatkan sebagai guru berprestasi di tingkat propinsi dan nasional, Karna karya-karyanya didunia pendidikan.Tetapi setelah dikaji dan direkap, ternyata kehadiran beliau saat mengajar dikelas,. tidak lebih dari 50% saja. Mengejutkan sekali! guru yang seharusnya mendidik dan mengajar dikelas, ternyata malah meninggalkan kelas demi prestasi beliau sendiri.
Lalu di sekolah B, ada oknum guru olahraga yang melakukan pelecehan seksual terhadap para siswi yang hendak berganti pakaian olahraga.
Disekolah C, ada oknum guru yang ditugasi membimbing siswa-siswinya untuk mengikuti kegiatan lomba. Selesai lomba dan siswanya dinyatakan menang, siswa berhak menerima sejumlah uang. tapi guru tersebut malah meminta keikhlasan siswa tersebut untuk menyisihkan sebagian kecil uang hasil lomba untuk dirinya. Apakah ini yang dinamakan pahlawan tanpa tanda jasa?
Lalu ada lagi kasus disekolah D, seorang guru tega mengumpulkan murid laki-lakinya yang tidak mengerjakan tugas ditengah lapangan, tidak hanya itu tetapi sang guru sampai memukulinya dan membantingnya hingga patah tulang.
Apakah tugas guru sekarang adalah sebagai pengadil kekerasan? Hmm,..
Ada lagi, guru yang melupakan murid-muridnya demi mengejar sertifikasi yang mengharuskan beliau untuk membuat berbagai macam karya demi kenaikan gaji, Inilah yang sungguh ironis. Bagaimana nasib murid-muridnya?
Hal ini berbeda jauh dengan sosok pahlawan yang tergambar disebuah novel. Masih ingatkah tentang bu mus? Ibu guru dalam novel dan film”laskar pelangi” karya andrea hirata? Hmm,, tentu kalian masih ingat bagaimana seorang ibu guru yang ikhlas mendidik dan mengajari murid-muridnya walaupun dengan gaji yang tidak melebihi uang yang beliau dapat dari menjahit. Walaupun beliau ditawarkan untuk mengajar di sekolah elit yang bergaji besar beliau tidak pernah mau. Karna beliau yakin bahwa anak-anak itu akan berhasil jika ada yang membimbingnya. Dan itu ia buktikan dalam prestasi-prestasi yang diraih muridnya.
Berbeda dengan jaman sekarang, guru yang memiliki profesi selain mengajar, seperti ngojek dan jadi pemulung dianggap tabu. Padahal jika mereka ikhlas dalam hidup ini merekalah yang patut disebut pahlawan tanpa tanda jasa.

Lalu yang menjadi persoalan, dengan banyaknya penyimpangan-penyimpangan seperti ini apakah masih pantas, seorang guru dikatakan ”pahlawan tanpa tanda jasa”?
Jawabnya terserah hati anda......

Selasa, 13 Oktober 2009

perencanaan pendidikan matematika

Kompetensi adalah karakteristik yang mendasari seseorang mencapai kinerja tinggi dalam pekerjaannya. Karakteristik itu muncul dalam bentuk pengetahuan, keterampilan dan perilaku. Selama ini yang banyak diperbincangkan adalah pengetahuan dan keterampilan, yang ternyata bukan merupakan jaminan keberhasilan. Faktor lain yang harus diperhatikan adalah perilaku.
Sebagaimana selama ini IQ (intellectual quotient) dikenal sebagai faktor penentu, lalu muncul EQ (emotional quotient) dan SQ (spiritual quotient) justru diyakini lebih menentukan keberhasilan. Faktor pengetahuan dan keterampilan tetap merupakan prasyarat yang harus dipenuhi. Namun yang tidak kalah penting adalah faktor yang selama ini tidak kelihatan, yaitu konsep diri, motif, dan sifat-sifat. Pada gilirannya hal yang tak kelihatan ini muncul sebagai perilaku (kompetensi perilaku).Contoh perilaku sebagai kompetensi adalah kemampuan adaptasi atau fleksibilitas menghadapi perubahan, pengambilan keputusan, membangun team-work, komunikasi, kemampuan belajar terus menerus, inisiatif, orientasi pelayanan pelanggan, dan lain-lain.

Aplikasi
Memiliki SDM yang kompeten adalah keharusan bagi perusahaan. Mengelola SDM berdasarkan kompetensi diyakini bisa lebih menjamin keberhasilan mencapai tujuan. Sebagian besar perusahaan memakai kompetensi sebagai dasar dalam memilih orang, mengelola kinerja, pelatihan dan pengembangan serta pemberian kompensasi. Proses rekrutmen dan seleksi diarahkan untuk mencari orang yang mendekati model kompetensinya, demikian pula halnya untuk pengembangan kinerja dan karier karyawan.



Didasari oleh visi matematika sebagai bidang studi, yaitu (a) merupakan ilmu bantu, sehingga pemahaman konsep matematika haruslah ditujukan untuk penyelesaian masalah matematika dan ilmu lainnya; (b) merupakan alat untuk mengembangkan :
kognitif, yaitu nalar yang logis, sistematis, kritis, dan cermat;
afektif, yaitu sikap ulet, obyektif, dan terbuka.
Dengan demikian hakekat pendidikan matematika pada prinsipnya membantu peserta didik agar berpikir kritis, bernalar efektif, efisien, bersikap ilmiah, disiplin, bertanggung jawab, berjiwa keteladanan, percaya diri disertai dengan iman dan takwa.
Hakekat pendidikan matematika seperti pendidikan matematika seperti di atas akan terwujud jika didukung oleh seperangkat kompetensi, yaitu kompetensi dasar pendidikan matematika, kompetensi profesional, dan kompetensi akademik guru matematika.
Sejalan dengan visi matematika yang mengarahkan pada dua pengembangan, yaitu untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan kebutuhan masa datang, maka pendidikan matematika dititipi seperangkat misi dalam bentuk paket-paket kompetensi.
Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.
Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu. Dasar pemikiran untuk menggunakan konsep kompetensi dalam kurikulum adalah sebagai berikut:
(1) Kompetensi berkenaan dengan kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks.
(2) Kompetensi menjelaskan pengalaman belajar yang dilalui siswa untuk menjadi kompeten
(3) Kompeten merupakan hasil belajar (learning outcomes) yang menjelaskan hal-hal yang dilakukan siswa setelah melalui proses pembelajaran.
(4) Kehandalan kemampuan siswa melakukan sesuatu harus didefinisikan secara jelas dan luas dalam suatu standar yang dapat dicapai melalui kinerja yang dapat diukur
Implementasi pendidikan matematika di sekolah mengacu pada seperangkat kurikulum. Saat ini, kurikulum yang dikembangkan adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi. Struktur Kompetensi dasar Kurikulum Berbasis Kompetensi ini dirinci dalam komponen aspek, kelas dan semester. Keterampilan dan pengetahuan dalam setiap mata pelajaran, disusun dan dibagi menurut aspek dari mata pelajaran tersebut.
Kompetensi dasar merupakan pernyataan minimal atau memadai tentang pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak setelah siswa menyelesaikan suatu aspek atau subaspek mata pelajaran tertentu. Pernyataan hasil belajar ditetapkan untuk setiap aspek rumpun pelajaran pada setiap level. Perumusan hasil belajar adalah untuk menjawab pertanyaan, “Apa yang harus siswa ketahui dan mampu lakukan sebagai hasil belajar mereka pada level ini?”. Hasil belajar: Mencerminkan keluasan, kedalaman, dan kompleksitas kurikulum dinyatakan dengan kata kerja yang dapat diukur dengan berbagai teknik penilaian.
Setiap hasil belajar memiliki seperangkat indikator. Perumusan indikator adalah untuk menjawab pertanyaan, “Bagaimana kita mengetahui bahwa siswa telah mencapai hasil belajar yang diharapkan?”. Guru akan menggunakan indikator sebagai dasar untuk menilai apakah siswa telah mencapai hasil belajar seperti yang diharapkan. Indikator bukan berarti dirumuskan dengan rentang yang sempit, yaitu tidak dimaksudkan untuk membatasi berbagai aktivitas pembelajaran siswa, juga tidak dimaksudkan untuk menentukan bagaimana guru melakukan penilaian. Misalkan, jika indikator menyatakan bahwa siswa mampu menjelaskan konsep atau gagasan tertentu, maka ini dapat ditunjukkan dengan kegiatan menulis, presentasi, atau melalui kinerja atau melakukan tugas lainnya.
PENGEMBANGAN SILABUS
Posted by edywihardjo on Feb 26, 2009 in Perencanaan Pembelajaran |
Subscribe
A. Pengertian Silabus
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.
B. Prinsip Pengembangan Silabus
1. Ilmiah
Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
2. Relevan
Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.
3. Sistematis
Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.
4. Konsisten
Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.
5. Memadai
Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6. Aktual dan Kontekstual
Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
7. Fleksibel
Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
8. Menyeluruh
Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).
C. Unit Waktu Silabus
1. Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.
2. Penyusunan silabus memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester, per tahun, dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok.
3. Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum. Bagi SMK/MAK menggunakan penggalan silabus berdasarkan satuan kompetensi.
D. Pengembang Silabus
Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah/madrasah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru (PKG), dan Dinas Pendikan.
1. Disusun secara mandiri oleh guru apabila guru yang bersangkutan mampu mengenali karakteristik peserta didik, kondisi sekolah/madrasah dan lingkungannya.
2. Apabila guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri, maka pihak sekolah/madrasah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah/madrasah tersebut.
3. Di SD/MI semua guru kelas, dari kelas I sampai dengan kelas VI, menyusun silabus secara bersama. Di SMP/MTs untuk mata pelajaran IPA dan IPS terpadu disusun secara bersama oleh guru yang terkait.
4. Sekolah/Madrasah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri, sebaiknya bergabung dengan sekolah-sekolah/madrasah-madrasah lain melalui forum MGMP/PKG untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah-sekolah/madrasah-madrasah dalam lingkup MGMP/PKG setempat.
5. Dinas Pendidikan/Departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing.
E. Langkah-langkah Pengembangan Silabus
1. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebagaimana tercantum pada Standar Isi, dengan memperhatikan hal-hal berikut:
a. urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI;
b. keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran;
c. keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata pelajaran.
2. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran
Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:
a. potensi peserta didik;
b. relevansi dengan karakteristik daerah,
c. tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;
d. kebermanfaatan bagi peserta didik;
e. struktur keilmuan;
f. aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
g. relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
h. alokasi waktu.
3. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.
a. Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.
a. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.
b. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.
b Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi.
4. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi
Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.
5. Penentuan Jenis Penilaian
Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian.
a. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
b. Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
c. Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan peserta didik.
d. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.
e. Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.
6. Menentukan Alokasi Waktu
Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.
7. Menentukan Sumber Belajar
Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.



Pengembangan RPP - Presentation Transcript
1. PENGEMBANGAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
2. LANDASAN RPP Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pe mbel ajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar PP NO 19 TAHUN 2005 Pasal 20
3. PENGERTIAN RPP Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan telah dijabarkan dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih.
4. ALUR RPP SILABUS RPP SK dan KD
5. KOMPONEN RPP (minimal)
o Tujuan Pembelajaran
o Materi Pembelajaran
o Metode P embelajaran
o Sumber Belajar
o Penilaian Hasil Belajar
6. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran : … Kelas/Semester : … Pertemuan Ke- : … Alokasi Waktu : … Standar Kompetensi : … Kompetensi Dasar : … Indikator : … I. Tujuan Pembelajaran : … II. Materi Ajar : … V. Alat/Bahan/Sumber Belajar: … III. Metode Pembelajaran: … VI. Penilaian: …
o IV. Langkah-langkah Pembelajaran
 Pertemuan pertama,
 Kegiatan Awal: …
 Kegiatan Inti: …
 Kegiatan Akhir: …
 Pertemuan kedua, dst.
Format RPP
7.
 Mengisi kolom identitas
 Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan
 Menentukan SK, KD, dan Indikator yang akan digunakan ( terdapat pada silabus yang telah disusun )
 Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD, dan Indikator yang telah ditentukan. (Lebih rinci dari KD dan Indikator, pada saat-saat tertentu rumusan indikator sama dengan tujuan pembelajaran, karena indikator sudah sangat rinci sehingga tidak dapat dijabarkan lagi.)
Langkah-langkah Menyusun RPP
8.
 5. Mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok/ pembelajaran yang terdapat dalam silabus. Materi ajar merupakan uraian dari materi pokok/pembelajaran
 6. Menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan
 7. Merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, inti, dan akhir.
Langkah-langkah Menyusun RPP
9.
 8. Menentukan alat/bahan/ sumber belajar yang digunakan
 9. Menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik penskoran, dll

dari dan untuk matematika

Nim : 070839

Fak/prodi : FKIP/ Matematika untirta.//

Sesuai dengan teori thorndrike tentang stimulus-respon, maka sebelum memulai pembelajaran kita rangsang motivasi siswa untuk belajar matematika dengan cerita dan permainan yang berhubungan dengan angka (matematika).

Berikut ini adalah sedikit cerita dan permainan untuk merangsang motivasi siswa untuk belajar matematika:

Cerita matematika:

1.Suatu hari, hapidz siswa sekolah dasar menghadapi soal ulangan matematika disekolahnya. Isi soal tersebut adalah perkalian angka sembilan dari 1 sampai sepuluh, seperti dibawah ini:

1 x 9 =

2 x 9 =

3 x 9 =

4 x 9 =

5 x 9 =

6 x 9 =

7 x 9 =

8 x 9 =

9 x 9 =

10 x 9 =

karna hapidz terkenal tidak pandai, maka ia bingung bukan kepalang.. akhirnya ia dengan keputus asaannya menjawab soal tersebut seperti ini:

  1. ia mengurutkan angka dari 0 sampai angka 9 dari atas sampai kebawah.
  2. ia mengurutkan lagi dari atas sampai bawah, tetapi dimulai dari angka 9 sampai angka 0.

Besoknya, hapidz melihat hasil ulangannya dengan nilai sempurna yaitu 10. karna inilah hasil jawaban hapidz;

1 x 9 = 0 9

2 x 9 = 1 8

3 x 9 = 2 7

4 x 9 = 3 6

5 x 9 = 4 5

6 x 9 = 5 4

7 x 9 = 6 3

8 x 9 = 7 2

9 x 9 = 8 1

10 x 9 = 9 0

Sungguh benar-benar beruntung hapidz, ternyata jawabannya memang benar semua,… hehe,……

  1. seekor katak, dapat melompat sejauh 0,5 meter dengan sekali melompat.

Ternyata didepan katak tersebut membentang sungai yang kedalaman airnya 3 meter dan lebar sungai tersebut adalah 6,5 meter. Katak itu harus menyebrangi sungai tersebut untuk sampai ketepian sungai diseberang sungai.

Pertanyaannya, berapa kali katak tersebut harus melompat agar sampai ketepian sungai diseberang sungai tersebut?

Jawab : Pertanyaan yang sederhana tapi menjebak untuk anak sd atau smp. Karna jawaban yang benar adalah satu kali melompat, karna setelah sekali melompat katak tersebut berenang untuk menuju tepian seberang sungai,.. hehe….

Berikutnya adalah keunikan angka:

1. guru memberikan beberapa pertanyaan, yaitu sebagai berikut:

=

11² =

111² =

1111² =

11111² =

111111² =

Dst,,,,

  1. guru menyuruh murid untuk menjawab kedepan dengan menggunakan alat Bantu hitung yaitu kalkulator untuk menjawab soal tersebut.
  2. guru menulis jawban tersebut di papan tulis dengan urutan spt ini:

= 1

11² = 121

111² = 12321

1111² = 1234321

11111² = 123454321

111111² = 12345654321

Dst,….

Sungguh angka yang unik dan menarik,… hehe,,, silahkan di coba,…

Demikian yang dapat saya tuliskan disini, semoga teman-teman guru dan calon guru dapat lebih kreatif dalam mengolah permainan ataupun cerita matematika untuk diterapkan didalam kelas nanti. Dan untuk dosen strategi belajar mengajar semoga dapat berkenan dan memberikan apresiasinya. Amin..


Uas sbm 2008

  1. jel. Prinsip penilaian dlm pemb mtk yang sebenarnya dalam pendekatan kontekstual?
  2. bagaimana pengembangan rencana pemb mtk dengan pendekatan open-ended?
  3. jel. Tujuan dan peranan guru dlm pemb. Mtk dengan metode penemuan?
  4. jel. Bergam aspek kemampuan siswa yang diharapkan dapat dicapai melalui pendekatan berdasarkan masalah?
  5. jel. Kelemahan dalam pemb kooperatif?
  6. jel. pemb mtk relistik?
  7. jel. tujuan dan peranan guru dalam tutor sebaya?

Model-model Pembelajaran:

Problem Based Intruction (PBI)

Pembelajaran Berbasis Masalah adalah pembelajaran di mana siswa mengerjakan masalah otentik untuk menyusun (menemukan) pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan tingkat tinggi, mengembangkan kemandirian percaya diri.

Ibrahim (2000) menyatakan pembelajaran berbasis masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampiulan intelektual, belajar berbagai peran orang dewasa melalui keterlibatan mereka dalam pengalaman nyata atau stimulus, dan menjadikan mereka sebagai pebelajar yang otonom dan mandiri.

Contextual Teaching And Learning (CTL)

CTL (pembelajaran kontektual) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa menghubungkan pengetahuan yang dimiliki dangan penerapanyya dalam kehidupan sehari-hari, dengan melibatkan 7 komponen utamanya, yakni: konstruktisme, bertanya, inkuiri, masyarakat belajar, pemodelan, dan penilaian otentik.

Secara garis besar langkah-langkah penerapan CTL di dalam kelas adalah sebagai berikut: 1) kembangkan pemikiran anak akan belajar lebih bermakna dengan bekerja sendiri, menemukan sendiri, mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya, 2) Lakukan secara optimal kegiatan inkuiri untuk berbagai topik, 3) Rangsang dan kembangkan rasa ingin tahu dengan melakukan berbagai pertanyaan, 4) Kndisikan manyarakat belajar dengan membentuk kelompok-kelompok, 5) Munculkan suatu model (pemodelan) sebagai contoh belajar, 6) lakukan refleksi dan penguatan di akhir pertemuan, dan 7) lakukan penilaian yang sebanarnya (otentik) dengan menampilkan berbagai macam tes.

Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan adanya kerja sama, yakni kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran (Johnson dan Johnson dalam Ismail, 2002: 12).

Macamnya:

  • Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa dalam memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan isi akademik.
  • TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok - kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda. Guru menyajikan materi, dan siswa bekerja dalam kelompok mereka masing - masing.
  • Type Jigsaw adalah tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Elliot Aronson’s. Model pembelajaran ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain.
  • STAD adalah Model pembelajaran yang dikembangkan oleh Slavin dan kawan-kawan di Universitas John Hopkins ini menitikberatkan pada pemberian motivasi kepada sekelompok siswa agar dapat berinteraksi dalam kelompoknya. Hal penting yang harus diperhatikan dalam setiap pelaksanaan STAD ini adalah pemilihan anggota kelompok. Heterogenitas harus menjadi dasar utama dalam setiap pemilihan anggota suatu kelompok.

Tutor sebaya Merupakan Pengajaran melalui kelompok yang dipimpin oleh satu pengajar (Tutor), dimana tutor tersebut adalah siswa yang memiliki kriteria sbb:

· Memiliki kemampuan akademis diatas rata-rata siswa satu kelas.

· mampu menjalin kerjasama dengan sesama siswa.

· memiliki motivasi tinggi untuk membuat kelompok diskusinya sebagai yang terbaik.

· bersikap rendah hati, bijaksana, dan bertanggung jawab.

· suka membantu sesamanya yang kesulitan

Remedial Merupakan Bentuk pengajaran yang bermaksud memperbaiki kesulitan belajar siswa yang diarahkan pada pencapaian hasil belajar yang optimal sesuai dengan kemampuan siswa

Open-ended Yaitu pembelajaran yang membangun kegiatan interaktif antara matematika dengan siswa sehingga mengundang siswa untuk menjawab permasalahan melalui berbagai strategi

Pembelajaran langsung adalah strategi pembelajaran yang dirancang untuk mengajarkan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang diajarkan setahap demi setahap. Ciri khas pembelajaran ini adalah modeling, yaitu suatu fase dimana seorang guru memodelkan atau mencontohkan melalui demonstrasi bagaimana suatu keterampilan itu dilakukan pada saat guru melakukan modeling, siswa melakukan pengamatan terhadap keterampilan yang dimodelkan itu, selanjutnya siswa diberi kesempatan untuk meniru model yang dilakukan oleh guru melalui kesempatan latihan di bawah bimbingan guru. Model pembelajaran langsung merupakan model yang kadar berpusat pada gurunya paling tinggi, dan paling sering digunakan. Pada strategi ini termasuk di dalamnya metode-metode ceramah, ekspositori, serta demonstrasi.

Menurut Dave Meier pembelajaran dengan pendekatan SAVI adalah pembelajaran yang menggabungkan gerakan fisik dengan aktifitas intelektual dan penggunaan semua indra yang dapat berpengaruh besar pada pembelajaran.

  • Somatis : belajar dengan bergerak dan berbuat.
  • Auditori : belajar dengan berbicara dan mendengar.
  • Visual : belajar dengan mengamati (melihat) dan menggambarkan.
  • Intelektual : belajar dengan memecahkan masalah dan merenung (berfikir).

Menurut Ruseffendi (2006: 329) metode Discovery Learning adalah metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya tanpa pemberitahuan langsung; sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri.Dalam Discovery Learning, siswa dapat membuat sebuah konjektur, merumuskan sebuah hipotesis, atau menemukan sebuah kebenaran matematika dengan menggunakan induktif dan deduktif proses, observasi dan perhitungan.

inquiry adalah suatu perluasan proses-proses discovery yang digunakan dalam cara yang lebih dewasa. Sebagai tambahan pada proses-proses discovery, ínquiry mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya merumuskan problem, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan.

Menurut Poerwadarminta (1983) pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan.

Quantum learning adalah kiat, petunjuk, strategi, dan sluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat.

A). keterampilan dasar mengajar

1. keterampilan membuka dan menutup pelajaran

Dimaksudkan untuk melihat mental siswa dan membuat minat dan perhatian siswa tertuju pada mata pelajaran yang akan kita berikan.

2. keterampilan bertanya

Dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana partisipasi, minat, rasa ingin tahu siswa terhadap mata pelajaran dan mengukur pola pikir siswa.

3. keterampilan memberikan penguatan

Penguatan disini yaitu penguatan yang positif dan membangun siswa untuk lebih bisa dalm menangkap materi ajar.

4. keterampilan mengadakan variasi

agar siswa tidak bosan menghadapi situasi pembelajaran dalam kelas, maka perlu diadakan variasi dalam mengajar seperti gaya mengajar, penggunaan media alat ajar, dan pola pembelajaran dalam kelas

5. keterampilan menjelaskan

yaitu agar siswa dapat memahami konsep, hukum , prinsip materi dan membimbing mereka untuk dapat mengasah potensi diri siswa.

6. keterampilan membimbing diskusi kecil

7. keterampilan mengelola kelas

yaitu untuk menyadari keberadaan siswa dan mendorong siswa untuk aktif dalam belajar.

8. keterampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan.

B). Aliran psikologi pembelajaran matematika

1. psikologi tingkah laku

a. teori thondrike

”belajar akan berhasil jika respon siswa terhadap suatu stimulus diikuti dengan rasa senang” ia mengenalkan 3 hukum belajar yaitu hukum kesiapan, latihan dan akibat.

b. teori skiner

”penguatan mempunyai peranan yang amat penting dalam proses belajar”.

c. teori aussebel

”belajar bermakna dan pengulangan ssebelum belajar dimulai.

d. teori gagne

”ada dua objek yang dapat diperoleh siswa yaitu objek langsung dan tak langsung”.

e. teori paplov

”belajar akan berhasil jika melalui kebiasaan”.

f. Teori baruda

”siswa belajar dari apa yang ia lihat dan dengar yaitu meniru”.

g. teori aliran mental

”latihan yang membutuhkan daya otak yang tinggi”.

2. psikologi kognitif

a. teori peaget

”struktur kognitif siswa terdiri atas skemata (skema-skema)”

Yaitu tahap sensori motor , pra operasi, operasi kongkret, dan operasi formal.

b. teori bruner

”belajar metematika akan berhasil jika proses pengajaran diarahkan pada konsep-konsep dan struktur-strukturyang termuat dalam pokok bahasan yang diajarkan”.

c. teori gestal

”perhatian guru tantang materi, metode , dan pengelolaan kelas”.

d. teori brownel

”belajar makna dan pengertian”.

e. teori dieness

”tahap perkembangan anak”.

f. teori van hiele

”5 tahap perkembangan anak dalam pembelajaran geometri”.

C. prinsip-prinsip belajar

1. motivasi yaitu dorongan hati untuk lebih baik.

2. balikan yaitu respon siswa untuk menanggapi semua stimulus dari guru yang mengajar.

3. aktifitas yaitu keaktifan siswa dalam kelas dangan mengacu pada materi yang diajarkan.

4. perbedaan individu yaitu kemampuan siswa dalam menangkap pelajaran pasti tidak akan sama.

5. perhatian yaitu siswa mengikuti dan mencerna setiap materi yang diajarkan oleh guru.

D. 4 pilar pendidikan

  1. learn to know.Peserta didik paham materi untuk lanjut kemateri lain.

2. learn to do. peserta didik dapat berbuat sebagaimana mestinya.

3. learn to give together / to live wich other Peserta didik dapat beradaptasi dengan sekitar dan dapat bekerja sama.

4. learn to be Peserta didik dapat mengembangkan poetensi dirinya sehingga menjadi manusia bulat dan utuh.


KUBUS YANG TERBUAT DARI 6 LIMAS SEGI 4

nIM : 070839

KELAS : 4B

TUGAS : STRATEGI BELAJAR MENGAJAR (SBM)

Saya berpendapat bahwa “sebuah kubus dapat dibentuk dari enam buah limas segi empat yang tinggi keenam limas tersebut adalah sama yaitu setengah dari panjang setiap sisi limas tersebut”. Maka saya mencoba membuat alat peraga tersebut dan pendapat saya itu terbukti dengan alat peraga yang telah selesai saya buat.

Tetapi saya belum dapat membuktikan kesamaan untuk hal lainnya seperti volume dan lain-lainnya, mudah-mudahan semua yang terlah melihat ini dapat termotivasi dan mengembangkan alat peraga ini. Amin..

Cara membuat:

  1. buat jarring-jaring limas sebanyak enam buah. Dengan tinggi limas tersebut harus sama yaitu setengah dari panjang sisi segi empat dari limas tersebut.
  2. karna kubus yang saya buat sebesar 12 cm maka tinggi dari limas tersebut haruslah setengahnya yaitu 6 cm.
  3. lalu buat jarring-jaring kubusnya dan kita bentuklah limas-limas tersebut menjadi sebuah kubus.

Tidak rumit dan sangat gampang dan mudah-mudahan bermanfaat. Aminn..

Tangerang,14 juni 2009

TEORI BELAJAR VAN HIELE

A. Pendahuluan

Dua tokoh pendidikan matematika dari Belanda, yaitu Pierre Van Hiele dan isterinya, Dian Van Hiele-Geldof, pada tahun-tahun 1957 sampai 1959 mengajukan suatu teori mengenai proses perkembangan yang dilalui siswa dalam mempelajari geometri. Dalam teori yang mereka kemukakan, mereka berpendapat bahwa “dalam mempelajari geometri para siswa mengalami perkembangan kemampuan berpikir melalui tahap-tahap tertentu”.

B. Tingkat kognitif / tahap berpikir menurut Van Hiele

Tahapan berpikir atau tingkat kognitif yang dilalui siswa dalam pembelajaran geometri, menurut Van Hiele adalah sebagai berikut:

Level 0. Tingkat Visualisasi

Tingkat ini disebut juga tingkat pengenalan. Pada tingkat ini, siswa memandang sesuatu bangun geometri sebagai suatu keseluruhan (wholistic). Pada tingkat ini siswa belum memperhatikan komponen-komponen dari masing-masing bangun. Dengan demikian, meskipun pada tingkat ini siswa sudah mengenal nama sesuatu bangun, siswa belum mengamati ciri-ciri dari bangun itu. Sebagai contoh, pada tingkat ini siswa tahu suatu bangun bernama persegipanjang, tetapi ia belum menyadari ciri-ciri bangun persegipanjang tersebut.

Level 1. Tingkat Analisis

Tingkat ini dikenal sebagai tingkat deskriptif. Pada tingkat ini siswa sudah mengenal bangun-bangun geometri berdasarkan ciri-ciri dari masing-masing bangun. Dengan kata lain, pada tingkat ini siswa sudah terbiasa menganalisis bagian-bagian yang ada pada suatu bangun dan mengamati sifat-sifat yang dimiliki oleh unsur-unsur tersebut

Sebagai contoh, pada tingkat ini siswa sudah bisa mengatakan bahwa suatu bangun merupakan persegipanjang karena bangun itu “mempunyai empat sisi, sisi-sisi yang berhadapan sejajar, dan semua sudutnya siku-siku”

Level 2. Tingkat Abstraksi

Tingkat ini disebut juga tingkat pengurutan atau tingkat relasional. Pada tingkat ini, siswa sudah bisa memahami hubungan antar ciri yang satu dengan ciri yang lain pada sesuatu bangun. Sebagai contoh, pada tingkat ini siswa sudah bisa mengatakan bahwa jika pada suatu segiempat sisi-sisi yang berhadapan sejajar, maka sisi-sisi yang berhadapan itu sama panjang. Di samping itu pada tingkat ini siswa sudahmemahami pelunya definisi untuk tiap-tiap bangun. Pada tahap ini, siswa juga sudah bisa memahami hubungan antara bangun yang satu dengan bangun yang lain. Misalnya pada tingkat ini siswa sudah bisa memahami bahwa setiap persegi adalah juga persegipanjang, karena persegi juga memiliki ciri-ciri persegipanjang.

Berikut ini merupakan contoh pekerjaan siswa pada level 2.



Level 3. Tingkat Deduksi Formal

Pada tingkat ini siswa sudah memahami perenan pengertian-pengertian pangkal, definisi-definisi, aksioma-aksioma, dan terorema-teorema dalam geometri. Pada tingkat ini siswa sudah mulai mampu menyusun bukti-bukti secara formal. Ini berarti bahwa pada tingkat ini siswa sudah memahami proses berpikir yang bersifat deduktif-aksiomatis dan mampu menggunakan proses berpikir tersebut.

Level 4. Tingkat Rigor

Tingkat ini disebut juga tingkat metamatematis. Pada tingkat ini, siswa mampu melakukan penalaran secara formal tentang sistem-sistem matematika (termasuk sistem-sistem geometri), tanpa membutuhkan model-model yang konkret sebagai acuan. Pada tingkat ini, siswa memahami bahwa dimungkinkan adanya lebih dari satu geometri.

Sebagai contoh, pada tingkat ini siswa menyadari bahwa jika salah satu aksioma pada suatu sistem geometri diubah, maka seluruh geometri tersebut juga akan berubah. Sehingga, pada tahap ini siswa sudah memahami adanya geometri-geometri yang lain di samping geometri Euclides.

Menurut Van Hiele, semua anak mempelajari geometri dengan melalui tahap-tahap tersebut, dengan urutan yang sama, dan tidak dimungkinkan adanya tingkat yang diloncati. Akan tetapi, kapan seseorang siswa mulai memasuki suatu tingkat yang baru tidak selalu sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lain.

Selain itu, menurut Van Hiele, proses perkembangan dari tahap yang satu ke tahap berikutnya terutama tidak ditentukan oleh umur atau kematangan biologis, tetapi lebih bergantung pada pengajaran dari guru dan proses belajar yang dilalui siswa.
C. Implementasi teori Van Hiele dalam Pembelajaran
Untuk meningkatkan suatu tahap berpikir ke tahap berpikir yang lebih tinggi Van Hiele mengajukan pembelajaran yang melibatkan 5 fase (langkah), yaitu ; informasi (information), orientasi langsung (directed orientation), penjelasan (explication), orientasi bebas (free orientation), dan integrasi (integration).

Fase 1 : Informasi (information)

Pada awal fase ini, guru dan siswa menggunakan tanya jawab dan kegiatan tentang obyek-obyek yang dipelajari pada tahap berpikir yang bersangkutan. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa sambil melakukan observasi. Tujuan kegiatan ini adalah :

a. Guru mempelajari pengetahuan awal yang dipunyai siswa mengenai topik yang di bahas.

b. Guru mempelajari petunjuk yang muncul dalam rangka menentukan pembelajaran selanjutnya yang akan diambil.

Fase 2 : Orientasi langsung (directed orientation)

Siswa menggali topik yang dipelajari melalui alat-alat yang dengan cermat disiapkan guru. Aktifitas ini akan berangsur-angsur menampakkan kepada siswa struktur yang memberi ciri-ciri untuk tahap berpikir ini. Jadi, alat ataupun bahan dirancang menjadi tugas pendek sehingga dapat mendatangkan repon khusus.

Fase 3 : Penjelasan (explication)

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, siswa menyatakan pandangan yang muncul mengenai struktur yang diobservasi. Di samping itu untuk membantu siswa menggunakan bahasa yang tepat dan akurat, guru memberi bantuan seminimal mungkin. Hal tersebut berlangsung sampai sistem hubungan pada tahap berpikir ini mulai tampak nyata.

Fase 4 : Orientasi bebas (free orientation)

Siswa mengahadapi tugas-tugas yang lebih komplek berupa tugas yang memerlukan banyak langkah, tugas-tugas yang dilengkapi dengan banyak cara, dan tugas-tugas open ended. Mereka memperoleh pengalaman dalam menemukan cara mereka sendiri, maupun dalam menyelesaikan tugas-tugas. Melalui orientasi diantara para siswa dalam bidang investigasi, banyak hubungan antara obyek-obyek yang dipelajari menjadi jelas.

Fase 5 : Integrasi (Integration)

Siswa meninjau kembali dan meringkas apa yang telah dipelajari. Guru dapat membantu dalam membuat sintesis ini dengan melengkapi survey secara global terhadap apa-apa yang telah dipelajari siswa. Hal ini penting tetapi, kesimpulan ini tidak menunjukkan sesuatu yang baru.